Travelling with Babies? Siapa takut! – Jalan-jalan ke Sumba Barat Daya

Kali ini kami liburan dengan anggota keluarga baru dan paling unyu, adek True! Adek True sudah keliling pulau Sumba pada usia 1 bulan. Yeayyy!! Jadi, liburan lebaran kemarin kami memutuskan untuk melancong ke Sumba Barat Daya dan sekitarnya. Lumayan pegel juga gendong bayi 5 kg ini kemana-mana. Tapi tetep happy dong.. Yes sudah sekitar setengah tahun saya nggak menyalurkan hobi jalan-jalan saya. Jadi semangat banget mau keluar dari sarang. Padahal khawatir juga dengan tujuan wisata sumba yang cukup adventurous. Jangan harapkan nursery room buat menyusui atau ganti pospak, atau toilet, pipis di semak-semak bok! Bang Asa juga terpaksa ganti pospak di pinggir jalan karena pup. Selalu sedia air mineral di botol buat cuci-cuci. Habis main dari pantai? Mandi dengan air mineral botolan. Kebelet pipis dan nggak ada toilet yang layak? Cuci dengan air mineral botolan.

Jadi kami berangkat dengan si tangguh mobil dinas agya, bukan endorse, tapi nasib dikasihnya mobil dinas agya di tengah alam sumba yang menantang. Kami berangkat dari Waingapu sekitar jam 11 siang dan sampai di Waikabubak sekitar jam 2 siang. Di Waikabubak kami makan siang di warung babi guling. Babi gulingnya enak. Sayangnya bang Asa lagi susah banget makan, mungkin karena dia banyak ngemil di sepanjang perjalanan, plus super excited juga karena restonya ada tamannya yang mana seru buat dijelajahi oleh toddler. 

Dari Waikabubak sekitar jam 3 sore kami langsung ke Sumba Barat Daya. Perjalanan masih 1 jam lagi dari Waikabubak (Sumba Barat) ke Waitabula (Sumba Barat Daya) yang menjadi tujuan kami. Memasuki Waitabula kami memutuskan untuk mampir ke pantai Mananga Aba untuk menikmati sunset. Lokasi pantai Mananga Aba sekitar 15 menit dari Waitabula ke arah bandar udara Tambolaka. Pantai ini memiliki garis pantai luas, pasir putih, dan ombak yang lumayan besar sehingga tidak cocok untuk anak-anak berenang. Ipopnya Asa suka banget sama pantai luas ini. Apalagi sunsetnya.. cantik pisan. Ada hotel baru menghadap ke pantai, sayang sekali hotelnya belum ada di agoda atau traveloka, kalau tahu sebelumnya ada hotel ini mungkin kami pilih menginap di sini aja.

Beach boys.

When the sun had gone, we decided to get up from the lovely beach, clean up, and check in to our hotel. Tapi ternyata mobil dinas agya andalan kami mogok. 😂😂 Sementara matahari terbenam hari mulai malam. Gelap bok! Jadilah kami minta bantuan orang di sekitar hotel untuk meminjam jumper. Sementara menunggu kami meminta tolong 2 pemuda yang lagi lewat untuk bantu dorong mobil, dan voila!! Mobil menyala lagi. Dan kami pun pergi dari pantai gelap dengan selamat. 

Rupanya keapesan kami hari itu belum berakhir di pantai. Sesampainya di hotel Sinar Tambolaka, kami nggak bisa check in karena pihak hotel mengaku agoda belum mengirim email konfirmasi. Sementara teman kami yang booking via traveloka lancar jaya langsung check in. Saya dan suami mencoba menelpon layanan pelanggan agoda tapi tidak ada hasil. Pihak hotel menawarkan kamar standar (kamar yang tersisa). Kamar standar nggak ada ac, hanya kipas angin, tidak ada air panas, tidak ada handuk dan toiletries. Karena adek True sudah rewel, bang Asa belum mandi dan makan, mobil pun mogok, maka kami memutuskan tidur di kamar standar malam itu, dengan special request air panas buat mandi anak-anak. Sementara kamar deluxe yang kami pesan dari agoda diganti untuk besoknya. Apes.. Tapi harus tetep happy karena ini judulnya liburan. Fungsinya liburan untuk merefresh jiwa dan raga. Ikutin aja lahh, gitu aja koq repot. 

Seusai mandi dan beres-beres, jam 9 malam kami baru keluar lagi untuk dinner di restoran paling ngehits di Waitabula, Restoran Gula Garam. Di situ kami mendapati waitress yang ketus karena kami datang sudah malam, padahal setelah kami masih ada beberapa tamu lagi yang baru datang. Mungkin si kakak waitress lagi pms yaaa..  Kami pesan 2 loyang pizza besar, 3 fish n chips, 2 chicken cordon bleu, 2 french fries dan berakhir dibungkus karena super duper kekenyangan. Btw, pizzanya recommended.

Esok harinya, setelah sarapan dan ganti aki di bengkel, kami berangkat ke kampung adat Ratenggaro. Di sini adek True rewel, jadi saya cuma sebentar dan langsung masuk mobil. Di mobil saya dikerubuti oleh penduduk kampung yang amazed sama adek bayi putih gendut lucu ini. Yang paling saya tidak nyaman di Ratenggaro adalah anak-anak kampung yang suka sekali minta-minta uang. Sebaiknya jangan dikasih karena tidak mendidik. Siapkan saja permen untuk dibagi-bagi, mereka sudah sangat senang koq. Di sini juga ada kuda yang bisa dinaiki untuk berputar-putar kampung. Awalnya mereka minta 25 ribu saja, tapi setelah selesai mereka minta 25 ribu lagi, alasannya karena nambah 1 putaran lagi, bah! Kasih dahhh.. Daripada rusuh. 

Pantai Ratenggaro dengan background kampung adat Ratenggaro.

Dari Ratenggaro kami lanjut ke Waekuri. Waekuri adalah sebuah laguna dimana air laut terperangkap di balik batu karang tinggi dan membentuk kolam hijau alami yang luas dan sangat cantik. Ada yang salah dari rute kami, kami nyasar ke perkampungan dan padang ilalang di daerah Kodi! Masalahnya adalah jalannya rusak parah, dan lagi-lagi mobil dinas agya andalan dipaksa melewati alam Sumba yang adventurous. Yah salah juga ya kita jalan-jalan pake mobil dinas, kalau di Jakarta udah nggak boleh ya. Hehe.. 

Di Waekuri anginnya tidak sekencang di pantai, adek True bisa ikut menikmati pemandangan.
Siapa tidak kepengen berenang di laguna super cantik ini?

Ini yang kedua kalinya saya ke Waekuri. Dulu tempat ini belum dibuat jalan, tangga, toilet, dan tempat bilas. Kemarin ketika berkunjung ke sana, tempat ini ramai sekali. Yang paling bikin kesal adalah ada yang membuang botol air mineral di laguna. Lokasi di sekitar laguna pun kotor oleh sampah. 

Sambil menunggu bilas, kami makan indomi goreng yang dimasak di atas kayu bakar, bang Asa makan telur rebus, saya makan pisang Ambon. Harga pisang ambon 1 sisir cuma 10 ribu. Di Waingapu biasanya dikasih harga 25 ribu. Naluri emak-emak tergoda harga murah pun keluar, lumayan kan buat makan di jalan, sisanya bisa dibuat kue di rumah. 

Kami pengunjung terakhir di Waekuri. Jam 5 sore. Saya sudah berpikir untuk segera pulang sebelum gelap, tapi pesona pantai Mandorak sungguh menggoda. Apalagi lokasinya bersebelahan dengan Waekuri. 

Mandorak cliff.
Mandorak beach.

Pulang dari Mandorak, kami mampir di Warungkoe di Waitabula untuk makan malam. Tempatnya berkonsep garden resto dengan beberapa gazebo. Ada tempat buat karaoke. Makanannya lumayan enak. Yang mengganggu adalah kucingnya yang siap sedia “membersihkan” sisa makanan di meja ketika customer selesai makan. Gilo kan…

Sampai di hotel, barang-barang kami sudah dipindahkan ke kamar deluxe sesuai pesanan kami di agoda. Jam 9 malam bang Asa masih lari-larian di koridor bersama bang Ben. Sementara adek True melanjutkan tidur pulasnya. Tanpa mandi. Anggap saja dilap pake tisu basah dan ganti baju dan pospak di mobil ketika di Warungkoe tadi itu sudah mandi ya.

Besoknya kami check out hotel jam 11 siang dan langsung menuju Resto Sumba Ate di Waikabubak Sumba Barat. Di tengah jalan bang Asa pup! Akhirnya kami berhenti di pinggir jalan. Lucunya bang Ben juga pup di mobil. Di Sumba Ate pun bang Asa dan bang Ben sama-sama pup lagi. Kompak banget! 

Matahari sudah mulai turun ketika kami mendekati Waingapu. Mampir dulu lah ke bukit Wairinding yang tersohor itu. Anginnya dingin sekali. Brrrr… Lagi-lagi adek True saya selimuti berlapis-lapis. Jalanan naik menuju bukit sudah dibuatkan tangga, walau sudah rusak di sana sini. Hari sudah mulai gelap, tidak ada lagi anak-anak Sumba di sekitar. Biasanya ada anak-anak Sumba yang siap untuk diajak berfoto bersama.

Biar dingin tetap happy.

Bukit Wairinding menjadi penutup perjalanan liburan kami kali ini. Sampai rumah baru terasa laper dan capek, tapi hati senang.

Travelling menurut saya bukan melulu tentang tempat yang kita tuju, tapi bisa belajar untuk lebih bekerja sama dengan teman atau pasangan kita. Apalagi ketika harus travelling with babies, nggak bisa lagi mengikuti ego mau ke sana atau ke sini dengan bebas. Babies first! Ngga bisa lagi ngotot dengan itinerary yang padat. Nggak bisa buru-buru, semua harus dijalani dengan santai. Hebatnya bang Asa pun bisa mengerti juga loh ketika dia sudah nggak sabar pengen berenang di Waekuri tetapi harus menunggu adeknya ganti pospak. Tapi adakalanya bang Asa jealous dan minta dikelonin di mobil. Jadilah di jok belakang saya nenenin adek True sambil ngelonin bang Asa. Rempong? Jelas! Tapi segala kerempongan ini tidak menyurutkan saya untuk mengagendakan travelling berikutnya, bersama 2 anak hebat saya juga tentunya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s