Liburan Bersama Toddler

Kalau liburan yang anda maksud adalah leyeh-leyeh santai, maka liburan bersama toddler sebenarnya tidak bisa benar-benar disebut liburan. Justru harus menyiapkan energi ekstra karena harus mengikuti kemana si toddler melangkah. Liburan kami kali ini cukup panjang, biasanya hanya sekedar weekend getaway. Lima hari di Bali bersama toddler cukup menguras energi tapi tetap saja merasa kurang lama. Butuh satu hari lagi khusus buat leyeh-leyeh. Lalu nanti kalau sudah tambah satu hari pasti tetep merasa kurang lama. Yang pasti Bali tidak pernah membosankan buat kami.

Hari Pertama 

Hari pertama di Bali kami hanya leyeh-leyeh di hotel kemudian makan malam di mall Galeria yang mana tinggal jalan kaki dari hotel. Sudah seminggu bang Asa mogok makan nasi dan makanan yang agak keras atau terlalu besar potongannya. Jadilah saya mencari tempat makan yang jualan bubur, dan pilihan jatuh ke kafe Betawi. Rasa masakannya tidak sesuai dengan harga. Makan pun jadi kurang nikmat karena bang Asa nggak mau duduk sama sekali dan rewel. Mungkin dia sudah mengantuk dan lelah karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Huhu maafin momi ya nak karena waktu makannya kemaleman.

Hari Kedua : Garuda Wisnu Kencana

Rencana hari ini adalah ke Ubud di saat ipopnya Asa simposium. Awalnya dikira simposium mulai pagi hari, ternyata baru dimulai jam 1 siang. Jadilah kami berubah haluan ke Garuda Wisnu Kencana (GWK) supaya ipopnya bisa jalan-jalan sampai siang. Padahal setiap ke Bali saya tidak pernah berminat untuk pergi ke GWK karena panas, harus olahraga naik tangga, bawa anak bayi, dan menurut saya lumayan membosankan.

Kami tiba di GWK masih sekitar jam 9 pagi, yang mana menurut saya waktu yang cukup tepat ke GWK. Cuaca masih tidak terlalu panas. Energi masih banyak buat naik tangga menyusuri bukit kapur nan panas itu. Pengunjung juga belum terlalu banyak, jadi bisa foto-foto dengan leluasa. Cukup melelahkan juga ke GWK bersama toddler, lansia, plus bawa bayi di perut yg usianya 6 bulan. Keringetan gemrobyosss!! Oh ya perjalanan kami ke Bali kali ini bersama the Opungs from Bekasi. Lumayan ada yang bantu jagain bang Asa. Hehee..

Sehabis olahraga menyusuri bukit kapur, kami memutuskan makan siang di pecel bu Tinuk. Pecelnya enak! Pilihannya banyak dan cocok buat makan siang. Bang Asa makan nasi sup dan telur dadar, lumayan masuk sekitar 10 sendok makan, sisanya dilepeh. Drama malas makan nasinya masih dipertahankan. 😂Terakhir ke pecel bu Tinuk ini tempatnya masih sempit, sekarang sudah diperluas dengan kolam di tengah-tengah beserta ikan cupang di botol-botol yang dipajang di sekeliling kolam. Kenapa juga pajangannya ikan cupang ya.. —__—

Setelah makan siang kami mengantarkan ipop ke hotel tempat simposium di daerah Kuta, dan kami lanjut ke Denpasar untuk sowan ke rumah inang tua saya.

Sekitar jam 5 sore kami menjemput ipop ke Kuta sekalian mampir ke pantai Kuta untuk menikmati sunset. Seperti biasanya Kuta di kala sunset tidak pernah sepi pengunjung.

Akhirnya berhasil wefie bersama si toddler di patung Garuda.
Bang Asa ternyata suka nonton tari Bali. Anteng banget!
Enjoy the sunset with Opungs.

Hari Ketiga – Pura Ulun Danu Beratan

Akhirnya kesampaian juga ke pura Ulun Danu yang gambarnya ada di lembar uang lima puluh ribuan. Sudah lama pengen ke sini karena merindukan udara segar pegunungan. Maklum kami hidup di daerah panas dekat pantai. Liburan pun nggak pernah jauh-jauh dari pantai.

Si toddler penasaran sama patung serigala. Opungnya penasaran pengen foto di patung serigala. 😅
6 months pregie..

Dari pura Ulun Danu kami yang kelaparan memutuskan untuk makan di bakmi Akai. Meciinnnya nampol! Kepala langsung pusing. Saya penggemar mecin yang jarang makan mecin dan tidak kuat dengan mecin. Iya mecin itu enak! Iya saya suka! Tapi syukurlah ambang respon tubuh saya terhadap mecin masih rendah. Hihi..

Dari bakmi Akai kami langsung ke tanah lot. Sebuah kesalahan besar datang jr tanah Lot sekitar jam 2.30 siang. Matahari masih menantang! Maka terbentuklah luka bakar grade 1 di kulit bahu yang lupa dioleskan tabir surya. 

Hari Keempat – Tari Kecak Uluwatu

Ini kedua kalinya kami nonton tari kecak di Uluwatu. Hari Sabtu suasana lebih ramai. Penjualan tiket tari kecak baru dibuka jam 4.30 sore.  Untuk mendapat tempat yang oke – dimana kita menghadap sunset, pura, dan pertunjukan tari kecak – kita harus langsung “tekcup” tempat di tengah sebelum tempat penuh. Tapiii matahari sore di Uluwatu rasanya 10 kali lebih dekat dan panas. Hidup itu memang penuh dengan pilihan. Kalo mau ngadem dulu ya nanti dapatnya duduk di bawah di barisan terdepan. Menurut saya kurang aman bagi yang membawa anak-anak karena ada adegan menendang bola api.

Hari Kelima – Bali Safari and Marine Park

Tidak ada yang berubah dengan tempat ini kecuali pengunjungnya yang jauh lebih banyak. Harga tiket masih sama, Uma restaurant juga masih sama. Ada pengalaman yang kurang menyenangkan ketika kami mau nonton tiger show. Saat masuk kami diarahkan petugas untuk duduk di bagian sebelah kiri pojok kanan atas. Bumil ini malas dong ya kudu naik-naik tangga, plus opungnya juga sedikit kesulitan kalau harus cepet-cepetan naik tangga berebut tempat kosong di kiri atas sana. Sebelum naik saya lihat di bagian kanan masih kosong tetapi kita tidak diperbolehkan ke sana. Setelah naik satu-dua seat yang lumayan tingginya sekitar 60cm untuk satu seat (saya nggak lihat ada tangga), saya lihat tempat kosong di pojok yang ditunjukkan oleh petugas sudah ada yang mengisi. Jelas mereka lebih cepat, lah lawannya bumil, lansia, dan toddler. Lalu saya memutuskan untuk duduk di area kosong yang ternyata itu (mungkin) seat vip karena ada garis kuning. Jelas saya diusir. Lalu oleh petugas kami diarahkan ke bagian kanan yang mana tadi masih kosong dan kami tidak diperbolehkan duduk di bagian sana. Saya jengkel dong. Ini petugas koq tega banget ya sama bumil yang udah kegedean perut begini. 

Terkesima lihat patung gajah.
Muka ngantuk berat tapi dipaksa nonton tiger show.
Malah ketiduran 😅
Syukurlah di safari journey bang Asa bangun.

Demikianlah liburan 5 hari kami di Bali bersama bang Asa. Capek? Iya, tapi happy. Nih tips liburan bersama toddler supaya kita bisa tetep happy.

1. Liburan harus dibawa santai. Jangan ngotot kejar target mau ke beberapa tempat sekaligus. Ikuti ritme anak. Untungnya bang Asa bukan tipikal bayi yang gampang cranky.

2. Selalu sedia cemilan, susu, dan terutama air minum. Selalu ingatkan anak untuk minum, karena toddler mudah dehidrasi.

3. Bawa stroller. Penolong di saat si toddler atau orangtuanya lelah.

4. Bawa mainan kesukaannya.

5. Terakhir, just enjoy your holiday!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s