Penjahit oh penjahit.. (Santa Ulos)

Sesungguhnya raja PHP di dunia ini tidak lain adalah penjahit. Saya sudah paham kelakuan para penjahit yang suka obral-obral janji. Tapi salahnya saya tetap gambling untuk mempercayakan bahan kebaya saya siap hanya dalam waktu seminggu.

Sabtu kemarin adik ipar saya menikah. Karena saya tinggal nun jauh di Sumba, saya baru memasukkan bahan ke penjahit 2 minggu sebelum hari H, yaitu pada saat saya ke Jakarta untuk acara martumpol. Setelah tanya sana sini, dan ditolak oleh penjahit lain karena penuh, akhirnya saya memutuskan ke penjahit langganan mertua di Santa Ulos Senen. Saya pasrah karena saya tidak punya stok kebaya yang masih muat di badan selain kebaya peach sederhana, tanpa payet, tanpa bordir, tanpa bustier.

Singkatnya Santa Ulos menyanggupi kebaya siap dalam seminggu, bahkan dia bilang 3-5 hari pun bisa. Saya percaya karena sudah langganan keluarga mertua. Bahan masuk hari Jumat sore. Total kerusakan 4,4 juta plus songket. Waktu itu saya sudah berpikir mahal sekali karena ini cuma penjahit pasar inpres Senen. Tapi saya termakan oleh bujuk rayu manisnya. Dan karena sudah kepepet akhirnya saya DP 1 juta. Minggu pagi saya pulang ke Sumba dan berpikiran positif. Saya tenggelam dengan kesibukan saya sampai pada selasa malam santa ulos sms minta dilunasi dulu. Biasanya saya melunasi pembayaran setelah semuanya selesai. Tapi Santa Ulos minta dilunasi dulu baru mereka mau mengerjakan. Saya mulai bad feeling dengan penjahit yang sudah jadi langganan keluarga ini. Karena selasa malam saya sedang menghadiri acara HKN akhirnya saya melunasi rabu pagi dan mengingatkan kebaya akan saya ambil hari Senin.

Hari senin berikutnya saya sudah di Jakarta lagi. Selasa pagi saya sms mengingatkan kalau saya mau ambil kebayanya jam 10 pagi. Kenyataan yang saya terima adalah hari itu saya bolak-balik ke pasar Inpres dan kebaya saya belum jadi. Awalnya sempat terucap kalau kebayanya belum dikerjain. Waktu saya habis terbuang sepanjang hari. Padahal masih banyak yang harus saya persiapkan sebelum saya berangkat ke Bagan Batu hari Kamis. Menjelang sore akhirnya kebaya bisa dikirim ke Senen untuk fitting. Oh ya, ternyata Santa Ulos di Senen hanya menerima orderan. Semuanya tidak dikerjakan di situ, tapi di Galur. Entahlah dia mengerti menjahit atau tidak, yang pasti dia tidak menggambar sketsa baju seperti penjahit yang pernah saya tahu. Kebaya masih polos, lengan kependekan, payet minimal sekali. Saya minta supaya bagian punggung juga dibordir dan dipayet namun dia menolak dibordir. Menurutnya bagian punggung atas itu tidak bagus kalau dibordir karena akan jadi kaku. Mungkin dia pikir saya nggak pernah bikin kebaya ya. Akhirnya dia berjanji bagian punggung hanya dipayet saja, tetep kekeuh tidak dibordir. Jadi yang dibordir cuma bagian dada atas sedikiitt saja. Pelit sekali. Padahal saya membayar total kebaya 1,8 juta. Hari itu sungguh menguras emosi. Awalnya saya masih dapat bersabar, tetapi sayangnya dia malah menyalahkan saya yang tidak segera melunasi. Di situ emosi saya mulai naik. Kenapa malah pelanggan yang dipersalahkan. Lagipula hari Rabu ke hari Selasa berjarak 7 hari. Semoga diampuni dosanya karena bikin bumil 3 bulan ini stres jiwa dan raga. Saat itu saya nyeeseeeelll banget kenapa ga ngikutin feeling saya sebelumnya : penjahit di pasar inpres Senen memangnya bagus?

Esok paginya saya sms lagi mau ambil kebayanya jam 9 pagi. Kemudian Santa (let’s just call her Santa) telpon saya dan mengabari kebaya belum dipayet dan bilang kebaya siap Jumat pagi. Saya kesal setengah mati. Saya katakan kalau saya berangkat kamis pagi dan saya meminta uang saya kembali. Dia mengiyakan dan meminta nomor rekening saya lalu menutup telponnya. Sebentar kemudian dia menelpon dan mengatakan uang yang kembali hanya 50% saja. Tentu saja saya tidak terima. Siang harinya setelah mengantar keluarga ke bandara saya langsung menuju ke pasar inpres senen. Di sana, mukanya Santa lempeeeengggg banget. Tidak ada permintaan maaf, datar, menyebalkan. Dia bilang nggak ada perjanjian uang kembali. Ya Tuhan, bagaimana mungkin seorang ibu cari uang dengan cara seperti ini. Tidakkah dia pikirkan anak dan keluarganya hidup dari uang dengan jalan membuat orang kesal, menipu. Iya..menipu..kenapa?karena setelah saya terima kebaya saya setengah dua belas tengah malam oleh go send (dan saya yang bayar ongkirnya 60ribu. Harusnya dia dong yang bayar.), saya dapati payet kebaya saya tidak rapi, belum selesai. Iya payetnya belum selesai. Dia janji bagian punggung mau dipayet, kenyataannya tidak. Saya minta lengannya dipanjangin karena kependekan. Kenyataannya tidak. Dan bagaimana nilainya secara keseluruhan? Saya beri nilai 30 dari 100. Semoga Tuhan mengampuni Santa. Memberikan hikmat supaya melakukan pekerjaannya dengan profesional dan komitmen. This was really my worst kebaya ever and Santa Ulos is the worst couturier that I ever met. *Tarik nafas panjang, elus-elus perut.*

Pada akhirnya saya tidak memakai kebaya tersebut, saya jadi memakai kebaya kutu baru saya yang lama. It was way much better eventhough there were no beads attached.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s